Inilah kisahku. Kisah cinta saat aku SMP, banyak orang menyebutnya dengan cinta monyat. Berawal dari rasa kagumku pada teman satu kelas, yang kemudian perlahan-lahan menjelma menjadi benih-benih cinta. Awalnya aku berusaha untuk mengalak perasaan yang tiba-tiba tumbuh dalam hatiku ini. Itu semua karena aku terlalu merasa gengsi untuk mengakui bahwa aku mencintai seorang trouble maker.
Saat itu aku berhasil menutupi rasa yang ada di hatiku, tidak seorang pun tahu aku menaruh simpatik untuknya. Tapi tidak untuk sahabatku. Aku mungkin berhasil menyembunyikan itu semua dari orang lain, tapi usahaku untuk menutupi semua persaan itu akhirnya tercium juga oleh sahabatku. Dia tahu aku menaruh simpatik pada si trouble maker. Aku mengelak, aku tetap masih berusaha untuk menutupinya karena rasa gengsi itu lebih besar menguasai hatiku. Entah darimana, satu persatu temanku yang lain juga mengetahui perasaanku pada si trouble maker itu. Mungkin juga dari sahabatku itu, dasar ember. Aku mulai panik, tapi rasa gengsiku menahanku untuk mengakuinya. Untuk mengalihkan perhatian, aku pun berusaha untuk mendekatkan si trouble maker itu dengan cewek lain yang saat itu memang sedang dia suka. Aku berharap dengan aku menjodohkan si trouble maker dengan cewek itu, teman-temanku bisa percaya bahwa di dalam hatiku tidak ada rasa cinta untuk si trouble maker. Sampai saatnya tiba aku siapkan acara penjodohan antara si trouble maker dengan cewek itu. Aku menyiapkan tempat, hadiah, bahkan aku mengatur acara penembakan itu. Dan akhirnya mereka berpacaran.
Dan bagaimana dengan hatiku ?
Aku fikir setelah aku melakukan penjodohan di antara mereka, perasaan cintaku buat si trouble maker bisa hilang. Tapi ternyata nggak, saat itu aku malah benar-benar merasa sakit. Tidak seperti yang aku harapkan. Hatiku menjadi hancur berkeping-keping, remuk, luluh lantak tak beraturan. Aku tidak berangkat sekolah dan sampai mengurung diri di kamar. Ingin rasanya aku menangis dan berbagi cerita dengan sahabatku. Namun lagi-lagi gengsiku menahanku untuk menceritakan pada sahabatku. Seiring berjalannya waktu, ternyata benih-benih cinta itu bukannya berkurang tapi malah semakin besar dan menguasai hatiku.
Sahabatku mulai sering bertanya tentang perasaanku pada si trouble maker itu. Aku sudah tidak bisa menutupinya lagi. Aku mengaku pada sahabatku. Aku memiliki perasaan yang dalam untuk si trouble maker. Sahabatku terus berusaha menghiburku, bahkan dia sempat mengatakan akan membantuku agar bisa bersama dengan si trouble maker. Tapi aku menolak, aku tidak ingin banyak orang yang tahu tentang perasaanku, tidak juga si trouble maker. Biarlah aku menyimpan cintaku bersama luka-luka yang tak terobati ini.
5 tahun telah berlalu, 4 tahun sudah aku tidak bertemu dengan si trouble maker. Tapi entah mengapa perasaan cinta yang tak pernah terungkap ini tidak juga hilang. Aku hanya sesekali mendengar kabar si trouble maker dari sahabatku. Aku merindukannya. Aku ingin bertemu. Aku tidak menyangka bahwa cinta monyetku akan terasa sebesar ini. Tapi sudahlah, dengan tidak bertemu seperti ini mungkin lebih baik. Aku tidak lagi merasakan perih seperih dulu saat aku melihatnya setiap hari. Walau pun kini aku telah bersama yang lain, cinta untuknya akan tetap ada, entah sampai kapan. Yang jelas selamanya akan selalu tersimpan dihatiku, hanya dihatiku meski cinta ini tak memilikinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar