Pages

Cerpen "Dua Gadis Kecil dan Rumah Tua"

Ini cerpen aku bikin waktu SMP jadi ya bahasa-bahasa polos gitu :p. Ini cerpen aku ikutin dilomba cipta cerpen tingkat SMP, yaa walo cuma tingkan Dati kali yah ^o^ .. Monggolah .....

“Assalamu’alaikum?” Kata Melza sambil mengetuk pintu rumah tetangganya.
“Selamat siang?” Melza mengulang sambil mengetuk pintu lebih keras.
            Namun tidak ada seorang pun yang menjawab salamnya. Melza mengintip dari jendela depan ke dalam rumah itu. Melza terheran karena seisi rumah itu terdapat banyak perabotan tua yang berdebu. Bulu kuduk Melza tiba-tiba berdiri, Melza merasa ada yang aneh dengan rumah yang terlihat tua itu. Dengan cepat Melza meninggalkan halaman rumah itu.
Saat terburu-buru berjalan, Melza menabrak seorang gadis cantik.

            “Eh oh maaf? Saya sedang terburu-buru” kata Melza pada gadis itu.
            ”Tidak apa-apa, aku juga minta maaf” Gadis itu tersenyum ramah.
            ”Kamu anak pindahan baru itu kan? Siapa nama kamu?” tanya gadis itu.
            ”Iya, aku pindahan dari Jogja. Sekarang rumahku sekarang di ujung gang ini.” Melza tersenyum ramah. ”Oya, nama kamu siapa? Terus kenapa umah itu terlihat sepi? Apa sudah tidak ada yang menempati?” Melza penasaran

            ”Namaku Suci, aku tinggal di samping kiri rumah kamu. Rumah itu memeng sudah lama di tinggal penghuninya.” Suci menjeleskan.
            ”Oh, pantesan aja dari tadi aku ketuk pintunya tidak ada yang menyahut.” jelas Melza.
            ”Ya sudah, mulai sekarang kita teman. Mel, kamu mau nggak ikut aku jalan-jalan? Ya Cuma lihat sekeliling gang kita.” ajak Suci pada Melza.
            Melza mengangguk dan mengikuti langkah Suci meninggalkan halaman rumah itu. Tapi Melza sangat terkejut karena pada saat dia melihat ke jendela rumah tua itu, terlihat gadis kecil melambaikan tangan pada Melza.
            ”Tunggu Suci! Tadi aku melihat gadis kecil didalam rumah itu.” kata Melza, ”Siapa dia?” Melza penasaran.
            Suci tidak menjawab, dia terus melangkah dan menunudukkan kepalanya. Melza merasa ada yang aneh dengan rumah tua itu. Tapi dia tetap mengikuti langkah Suci yang mengajaknya jalan-jalan.
            Sudah 1 bulan Melza dan keluarganya menempati rumah barunya yang berada di daerah Malang. Tapi Melza masih penasaran dengan rumah tua yang berada tak jauh dari rumahnya.
            ”Suci, aku masih penasaran dengan rumah tua itu. Mau nggak nati malam kamu temani aku mendatangi rumah itu? Mau kan?” pinta Melza saat mereka berdua berada di rumah Melza.
            ”Mel, udah lah… Kamu nggak usah mikirin rumah itu lagi. Orang di daerah sini juga tidak ada yang berani mendekati rumah tua itu.” Suci menjelaskan.
            ”Tapi kenapa setiap aku melewati rumah itu, aku selalu melihat gadis kecil seusia kita melambaikan tangannya ke arahku dari dalam rumah itu?” Melza penasaran.
            Suci hanya terdiam dan dia meminta izin untuk pulang. Suci dan Melza sejak tadi siang berada di rumah Melza yang sedang sepi. Melza mengizinkan Suci untuk pulang. Tapi Melza tetap berniat untuk mendatangi rumah itu selepas sholat maghrib.
            Melza mempersiapkan dirinya selepas sholat maghrib. Dia berniat ingin bersilaturahim pada penghuni rumah itu karena dia merasa rumah itu ada yang menempati.  Saat Melza sampai di halaman rumah tua itu, suasana tiba-tiba menjadi dingin. Melza tetap membulatkan tekadnya untuk menemui penghuni rumah tua itu. Angin dingin membuat Melza merasa gemetar dan takut.
            Aku ingin tahu kenapa orang-orang di sini tidak ada yang berani mendekati rumah ini. Suci bilang rumah ini sudah lama di tinggalkan oleh penghuninya, tapi kenapa? Terus gadis kecil itu siapa?” Melza berbicara dalam hati.
Tanpa di sadari oleh Melza, dari balik jendela rumah tua ada sepasang bola mata kecil mengawasi setiap gerak-gerik Melza. Melza terus melanghkah hingga sampai di depan pintu rumah tua itu. Saat Melza ingin mengetuk pintu tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya. Melza tersentak dan dengan cepat ia membaca ayat-ayat suci, wajahnya menjadi pucat.
            ”Mel, ini aku Suci. Aku khawatir sama kamu, makanya aku ingin temani kamu.” suara Suci melegakan Melza, ”Aku kan shabat kamu.”
            ”Ah, kamu ngagetin aku aja. Makasih ya, Ci?” Melza menggandeng tangan Suci. Mereka mengetuk pintu dan memberi salam berkali-kali, tapi tidak ada seorang pun penghuni rimah itu yang menjawab salam mereka. Hingga pintu rumah itu membuka sendiri. Pintu terbuka dengan suara yang mengerikan karena pintu kayu itu mulai lapuk di makan usia. Saat melihar seisi rumah itu bulu kuduk Melza dan Suci terasa berdiri semua. Terasa desahan nafas berat dari belakang mereka. Desahan nafas yang membuat keduanya gemetar dalam ruang tamu yang gelap dan sunyi. Mereka terus melangkah masuk, tanpa mereka sadari seorang gadis kecil mengikutinya dari belakang.
            BRUKK!!!
            Terdengar keras suara pintu tertutup, namun tidak ada angin kencang. Dengan cepat Melza dan Suci yang terkejut langsung berbalik dan berlari menuju pintu depan. Namun pintu tertutup dengan rapat, sehingga mereka terperangkap di dalam rumah tua itu.
            ”Tolong!!!” Suara Melza terdengar panik saat malihat wajah gadis kecil yang pucat mendatanginya.
            ”Siapa kamu?” Suara Melza bergetar ketakutan.
            Gadis itu tidak menjawab. Kedua tangannya terulur ingin mencekik leher Melza. Suara tawanya yang memrkakan telinga terus terdengar. Suci yang sedari tadi berada di belakang Melza, merangkul Melza sambil gemetar ketakutan. Mata gadis itu menjadi besar dan menyeramkan.
            ”Berani-beraninya kalian mendatangi rumahku!!!” kata gadis itu menggertak.
            ”Maafkan kami, kami hanya ingin mengetahui isi rumah ini.” kata Melza.
            ”Maafkan temanku yang sudah mengusik kehidupan kamu.” suara suci bergetar ketakutan membela Melza.
            ”Teman?? Jangan pernah sebut nama itu di rumah ini!” Gadis itu mulai menurunkan tangannya. ”N ama itu yang membuat aku menjadi begini.” suara gadis itu mulai melemah.
            ”Kenapa? Bukannya pertemanan itu indah” suara Melza terdengar bergetar.
            ”Memang teman itu indah, tapi pertemanan yang aku alami membuat petaka. Aku disini tinggal tidak sendiri. Aku ditemani sahabatku semasa hidup. Dan sekarang kami hidup bahagia walau kami terkurung dalam rumah ini.” Gadis itu berbicara dengan pandangan yang kosong.
            ”Jadi gadis kecil itu sudah mati???” Melza berkata dalam hati.
            Gadis kecil itu terlihat cantik  dan mungkin berusia sekitar lima belas tahun, hampir sama dengan usia Melza dan Suci. Di leher gadis itu tarlihar bekas luka seperti habis dicekik. Saat keadaan sunyi dalam gelapnya rumah itu, tiba-tiba terdengar lagi suara tawa yang memekakan telinga. Melza dan Suci tersentak, dari arah depan seorang gadis kecil muncul dengan wajah yang sama pucat dan mata besar menakutkan.
            “Siapa kamu!” Suci tersentak kaget.
Gadis itu tertawa menyeramkan memperlihatkan semua gigi depannya.
            ”Kau apakan temanki ini?!” kata gadis kecil yang baru datang. Melza dan Suci hanya terdiam dan berusaha menjauhi dua gadis kecil itu.
            ”Baik akan aku ceritakan semua.” Gadis kecil yang pertama mulai brbicara lagi. Melza dan Suci masih sangat takut.
            ”Namaku Ara dan ini temanku Vira. Dulu kami bersahabat saat maĆ­z hidup. Tapi orang tuaku tak mengizinkan aku berteman dengan Vira. Dan entah apa sebabnya. Akhirnya aku mengajak Vira hidup bersama tanpa seorang pun yang melarang kami berteman.” Ara bercerita.
            ”Kami memilih untuk gantung diri, karena hanya itu cara yang saat itu terpikir. Suatu hari sebelum keluarga Ara pindah karena ingin menjauhkannya dariku. Aku dan Ara gantung diri di kamar Ara, tepatnya di rumah ini. Dan sampai sekarang kami hidup berdua dengan bahagia. Tapi…” suara Vira terhenti.
            Kedua mata Ara dan Vira bersamaan memandang ke arah Melza dan Suci. Pandangan yang tajam dan dingin, membuat Melza dan Suci semakin merasa takut berada di rumah tua itu. Hembusan angin dingin membuat suasana msemakin menakutkan.
            ”Kenapa kalian menatap kami separti itu?” suara Melza terdengar sangat ketakutan.
            ”Kami di sini merasa sepi, karena hanya kami berdua yang menghuni rumah ini. Untuk itu kami ingin mengajak kalian hidup bersama kami.” suara Ara terdengar sangat menakutkan ditambah suara tawa yang membua bulu kuduk berdiri.
            ”Kami ingin kalian ikut ke kehidupan kami!” kata Ara, ”Makanya aku selalu melambaikan tangan pada kalian.”
            ”Kami tidak mau!!! Kalian sudah mati. Kami tidak mau separti kalian!” Melza berteriak ketakutan.

            ”Tolong…..!!! Tolong…..!!!” Melza dan Suci berteriak dan menoba membuka pintu depan yang tertutup rapat, berharap seseorang menolong mereka.
            ”Terlambat! Kalian tidak akan ada yang menolong. Percuma kalian meminta tolong. Ayo ikut kami hidup abadi.” Ara dan Vira mengulurkan tangan ingin mencakik Melza dan Suci. Mata Ara dan Vira memerah dan melotot menakutkan.
            Dengan cepat Suci berkomat-kamit membaca ayat suci Al Qur’an. Melza menyadari yang di lakukan Suci, dia ikut membaca ayat suci Al Qur’an. Dan tiba-tiba sosok Ara dan Vira yang dari tadi ingin mencekik Melza dan Vira, berteriak keras dan menakutkan. Ara dan Vira terlihat kesakitan. Suara mereka membuat ruangan tua itu semakin menakutkan, hawa dingin terus terasa. Melza dan suci terus membaca ayat suci Al Qur’an. Hingga akhirnya dia hantu kecil itu menghilang dengan diiringi suara jeritan dan tangis yang menyeramkan. Saat itu juga pintu depan rumah tua itu terbuka sendiri. Tanpa buang waktu Melza fan Suci berlari ke luar halaman dan terus berlari sampai di rumah Melza dan masuk ke kamar Melza.
            ”Alhamdulillah, kita bisa bebas dari rumah itu.” suara Suci terengah-engah dan masih ketakutan kalau dua hantu kecil itu mengikuti mereka.
            ”Sumpah! Aku tidak akan mensekati rumah itu lagi.” kata Melza. Mereka saling berpelukan dan menangis.
            ”Maafkan aku, Ci? Aku sudah membuat kamu susah karena aku tidak mengikuti kata kamu untuk tidak mendekati rumah tua itu.” kata Melza menangis.
            ”Sudah, Mel… Aku juga berterima kasih kamu sudah menguatkan aku ketika aku ketakutan” Suci berkata sambil menangis.
            ”Mulai sekarang aku akan percaya kamu. Suci, kamu teman terbaikku.” kata Melza.
            ”Terima kasih, kamu mau jadi temanku. Dan kejadian malam ini tidak akan aku lupakan, karena aku telah malihat kesetiaanmu menjadi sahabatku.” kata Suci.
            Mulai saat itu, Melza dan Suci menjadi teman dekat bahkan keluarga mereka saling mengenal seperti saudara dekat. Melza dan Suci pun tidak berani lagi mendatangi bahkan mendekati rumah itu pun mereka tidak berani lagi. Melza dan Suci terkadang masih melihat Ara melambaikan trangannya dari dalam rumah tua melalui jendela dengan senyum dingin. Tapi mereka tidak memperdulikannya, karena tidak ingin merasakan kejadian menyeramkan itu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

About

Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes

 

Blogger news

Blogroll

About